Live di inews, Karopenmas Divhumas Polri Kupas Tuntas Jaringan Terorisme Abu Rara

  • Whatsapp
Karo Penmas Divhumas Polri, Brigjen Pol Dr.Dedi Prasetyo, M.Hum., M.Si., M.M wawancara LIVE dengan iNews di Ruang kerja Karo Penmas

JAKARTA, BeritaBhayangkara.com – Karo Penmas Divhumas Polri, Brigjen Pol Dr.Dedi Prasetyo, M.Hum., M.Si., M.M melaksanakan wawancara LIVE dengan iNews di Ruang kerja Karo Penmas, Jumat, (11/10/2019) terkait jaringan terorisme dan penusukan Menkopolhukam Wiranto oleh jaringan Terorisme.

Tentunya tidak berhenti di sini preventif track yang dilakukan oleh Densus 88 masih terus akan melakukan pengejaran terhadap kelompok tersebut yang memiliki koneksi, master mainnya sedang kita kejar semoga dalam waktu dekat master main dapat ditangkap di wilayah Sumatera Utara, kata Karo Penmas Divhumas Polri, Brigjen Pol Dr.Dedi Prasetyo, M.Hum., M.Si., M.M.

Bacaan Lainnya

Terkait masalah penyerangan Pak Wiranto terdapat dua pelaku termasuk korban Kapolsek dan Ajudan Danrem. Tapi terkait menyangkut masalah kelompok teroris yang memiliki koneksi dengan Abu Zee, terdapat di Bandung, Bali dan Manado.

Jalur komunikasi sebagian besar menggunakan jalur komunikasi media sosial kelompok Abu Zee sebagai sentral merekrut beberapa orang dan terdapat 9 orang yang sudah direkrut kemudian yang aktif pada kelompok ini sudah ditangkap pada 23 September yang lalu, jelas Karo Penmas.

Aktifnya dalam arti kata, sudah melakukan ide atau latihan di Gunung Halimun latihan perang dan menggunakan senjata tajam, senjata api rakitan, menggunakan bom dan juga sudah mempersiapkan bom dengan menggunakan bahan TATP high eksplosif.

Abu Rara dan FA jalur komunikasi dengan media sosial hanya ketemu dengan Abu Zee satu kali. Satu kali di Bekasi dan langsung dinikahkan, lalu pergi ke Pandeglang untuk mengontrak rumah disana.

Abu Zee ini merekrut Abu Rara bersama istrinya, dia sudah melalui proses ajaran-ajaran radikal ISIS sudah sangat mendalam, kemudian dia pindah ke Pandeglang.

Abu Zee tertangkap dengan kelompoknya 8 orang ketika dia mengetahui Abu Zee tertangkap maka Abu Rara ini dalam pemeriksaan yang menyatakan bahwa dia stres dan tertekan dia beranggapan bahwa sebentar lagi dia akan tertangkap juga.

Ketika dia melihat ada momentum maka diniatkan untuk melakukan Amalia, dalam pemeriksaan itu disebutkan bahwa dia melihat situasi tersebut ada kapal turun namun tidak mengetahui pejabatnya siapa, kemudian dia menginformasikan kepada istrinya untuk melakukan Amaliah terhadap pejabat tersebut dengan menggunakan senjata tajam.

Jarak antara rumah dengan TKP itu 300 meter, mereka datang bersama anaknya menaiki motor, Abu Rara menginstruksikan kepada istrinya bahwa sasaran adalah kepolisian siapapun yang dekat dengan kamu langsung kamu tusuk dan sasaran Abu Rara kepada pejabat itu.

Saat mendekati, sebenarnya sudah diusir tidak boleh mendekat tapi yang bersangkutan mencoba untuk mendekat lagi karena melihat masa juga akan berkumpul dan bersalaman dengan Pak Wiranto kemudian foto bersama beliau, masuk secara spontan kemudian langsung menyerang Pak Wiranto.

Kapolsek yang di dekat Pak Wiranto berusaha untuk melindungi namun dari belakang langsung ditusuk oleh perempuan itu 2 kali, 1 di punggung belakang Lalu 1 di bagian tangan kiri.

Pola serangan yang dilakukan oleh kelompok ini ada 5 tahapan dalam 5 tahapan tersebut 2 tahapan baru aparat kepolisian dapat melakukan preventif strike.

Adapun 5 Tahapan jaringan terorisme tersebut yakni; Berjaga-jaga, tokoh sentralnya melakukan perekrutan dengan menggunakan media sosial; Taklim umum, memberikan doktrin terhadap ajaran tersebut; Taklim khusus, pada tahap ini Abu Rara meninggalkan kelompok tersebut karena tidak melakukan idat atau latihan; Latihan; dan Amaliah.

Serangan yang dilakukan secara spontan karena dia sudah mendapat ajaran yang sifatnya ekstrem tersebut untuk kapan dia melakukan Amaliah dan sasarannya siapa masih belum bisa dilakukan preventif strike, karena perbuatan perencanaan itu belum diketahui atau belum diketemukan oleh aparat Densus 88.

Potensi memang ada, jaringan ini ada jaringan yang aktif dengan arti bahwa terkait dalam kelompok tersebut dan ada peran masing-masing. dari kelompok itu terdapat kelompok lain juga yang ikut mengendalikan master mainnya jika kurang uang atau bahan maka akan dibantu.

Jaringan terkoneksi dari jaringan Sibolga, Jawa tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Manado, Bali, Bandung dan Bekasi.

Aparat Densus 88 bekerja keras untuk melakukan mitigasi terhadap kelompok ini karena cukup berat dan cukup banyak tidak hanya dilakukan preventif strike namun yang terpapar harus kita waspadai bersama seperti Abu Rara yang terpapar oleh paham ISIS.

Pengamanan Pelantikan Presiden

Pengamanan direncanakan secara detail oleh Polda Metro Jaya yang melibatkan 27.000 personel yang di backup juga oleh teman-teman dari TNI. Pola pengamanan khususnya konsentrasi di objek pengamanan adalah di istana Negara karena istana negara merupakan suatu tempat yang akan dilaksanakan prosesi pelaksanaan presiden.

Terbagi menjadi 3 ring :
1. Dalam istana karena kegiatan prosesi pelantikan
2. Sekitar gedung istana akan dilakukan proses sterilisasi terhadap siapa saja tamu undangan yang akan masuk ke dalam gedung istana
3. Halaman parkir istana akan dilakukan sterilisasi terhadap seluruh kendaraan yang akan masuk ke dalam area istana.

Kemudian jalur dimana presiden terpilih akan lewat berangkat dari kediaman, maka akan dilakukan pengamanan jalur. Kemudian rangkaian pengaman sesuai dengan standar operasional prosedur semua sudah dikoordinasikan baik oleh Polda Metro Jaya dan bertanggung jawab disana adalah Waskita Paspampres, tutur Karo Penmas.

Pewarta: Damar

Pos terkait