Warga Lapor Ke Kapolres Jakarta Utara Soal Air Mati Hingga Tawuran Melalui Jumat Curhat

Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Gidion Arif Setyawan hadir dalam Jumat Curhat detikPagi di Studio Trans TV Lt.9 Jl. Mampang Prapatan
banner 120x600

JAKARTA, BeritaBhayangkara – Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Gidion Arif Setyawan hadir dalam Jumat Curhat detikPagi di Studio Trans TV Lt.9 Jl. Mampang Prapatan Jakarta Selatan, Jumat (17/11/2023). Pada episode kali ini, berbagai pengaduan dilaporkan warga mulai dari air mati hingga tawuran remaja.

“Jumat Curhat ini kan memang basisnya ke RW kita, melakukan pendekatan betul-betul soft approach-nya ke RW, kemudian kita membuka ruang dialog dengan RW, dengan perangkat RW, kemudian dengan pemuda-pemuda di RW, banyak bentuk-bentuk curhatnya, bahkan tidak selalu yang berkaitan dengan Kepolisian langsung,” kata Kombes Gidion dalam program Jumat Curhat detikPagi, Jumat (17/11/2023).

Gidion menyebut curhatan yang masuk dari masyarakat tidak hanya dalam lingkup tugas pokok kepolisian. Mereka mengadukan tentang air dan listrik mati.

“Kadang-kadang mereka juga aneh-aneh curhatnya, ‘Pak, listrik di tempat kami udah seminggu nggak nyala’, lalu air di beberapa tempat air nggak nyala, ada juga yang kemudian itu menjadi. ya menurut saya itu menjadi bagian yang sangat asyik ya, artinya masyarakat mau terbuka meskipun itu bukan urusan polisi,” sebut dia.

“Kemudian kita mencari cara, oh kalau begitu kita saja nggak cukup ni, harus ngajak dari teman-teman stakeholder yang lain. Jadi kolaborasi,” jelasnya.

Sementara itu, warga juga melaporkan tentang tawuran remaja. Bahkan, kata dia, ada kasus anak SD mengeroyok siswa SMA.

“Lalu yang berkaitan langsung dengan tugas polisi itu awal saya masuk Jakarta utara itu memang yang paling banyak tawuran, anak muda, anak SMA, kemudian SMK, bahkan ada anak SD ngeroyok anak SMA juga ada,” tutur dia.

Gidion mengatakan dirinya menjabat sebagai Kapolres Jakut menjelang Ramadan tahun ini. Dia menyebut pada saat itu tantangannya adalah tawuran remaja.

“Awalnya saya masuk jelang Ramadan, dan itu vibe-nya hampir sama, kalau Ramadan itu kan yang dikhawatirkan karena anak-anak ini melek malam terlalu panjang, kemudian energinya berlebih di malam hari setelah menjelang subuh maka kekhawatirannya adalah tawuran,” sebut dia.

Polisi bersama pihak RW dan karang taruna berjaga di malam hari. Hal itu, kata dia, maksimal untuk mengurangi tawuran.

“Mereka dipicu jalan-jalan naik motor antar kampung, nah ini yang kemudian gimana caranya nggak terjadi, maka memang yang paling cepat caranya kita sama-sama melek, RW, RT, kemudian karang taruna, dari Babinsa, Bhabinkamtibmas kita ajak melek bareng, bikin pos di titik yang menjadi tempat rawannya tawuran. Karena melek bareng mereka juga mikir jadinya, pada pasca Ramadan itu minim sekali terjadi tawuran yang dikhawatirkan,” tutur dia. (*)

[better-ads type='banner' banner='53227' ]